Kesehatan saat umroh: vaksin, obat, dan haid (pengalaman aku)
Foto: Osmany M Leyva Aldana di Unsplash
Sebelum berangkat kami urus surat sehat dan vaksin meningitis, bawa obat dasar, dan buat perempuan, aku bahas urusan haid yang paling sering bikin panik. Adikku konsultasi ke dokter kandungan (Rp150 ribu plus obat) dan mulai minum obat penunda haid 3 hari sebelum berangkat. Di sini juga ada sumber soal hukum umroh saat haid, rumah sakit di Mekah dan Madinah, dan asuransi di visa umroh.
Bagian ibadah dan haid di halaman ini bukan fatwa. Aku kumpulin sumber-sumbernya, tapi keputusan akhirnya tanya ustaz atau mutawif yang kalian percaya.
1. Surat sehat & vaksin
- Surat keterangan sehat dari dokter itu salah satu syarat jemaah umroh mandiri di UU 14/2025. Urus ini jauh sebelum berangkat. Kami masing-masing bikin sendiri. Caranya aku cari di Google dokter atau klinik terdekat yang melayani surat keterangan sehat.
- Meningitis: Kementerian Kesehatan Saudi mensyaratkan vaksin meningococcal ACYW atau ACYWX, maksimal 5 tahun sebelumnya dan minimal 10 hari sebelum tiba. Sumber: Saudi MOH, Health Regulations Umrah.
- Polio: keluargaku diminta agen visa untuk vaksin polio. Tapi di aturan Saudi, polio hanya untuk pelancong dari negara tertentu, dan daftarnya bisa berubah. Cek ketentuan terbaru sebelum berangkat.
- Pengalaman keluargaku: meningitis ± Rp300 ribu, polio ± Rp150 ribu, di fasilitas kesehatan yang melayani vaksin internasional. Total ± Rp500 ribu. Nama kliniknya dikasih oleh agen visa. Urus minimal 1 bulan sebelum berangkat. Jangan mepet. Dan yang paling penting: jangan sampai sakit pas berangkat, jadi jaga badan dari jauh hari.
2. Asuransi
Asuransi kesehatan darurat itu udah jadi bagian dari visa umroh dan visa turis Saudi. Tapi belum tentu nanggung pembatalan penerbangan, bagasi hilang, atau hotel tambahan. Aku pribadi next time bakal pertimbangin asuransi perjalanan tambahan. Pas milih, cek polisnya nanggung apa aja: pembatalan trip, bagasi, medis, delay, dan apakah force majeure dikecualikan.
3. Obat dasar yang kami bawa
Paracetamol, obat demam, flu, batuk, tenggorokan, maag, alergi, Antimo, Counterpain/koyo, dan obat pribadi masing-masing.
Dari pengalaman: kami mulai sakit ringan gantian sekitar hari ke-6. Di masjid banyak banget orang dari berbagai negara, dan banyak yang batuk-pilek. Aku sendiri kena radang tenggorokan dan akhirnya beli throat spray di sana. Obat di Saudi menurutku terasa lebih mahal dari Indonesia, jadi obat dasar yang biasa kalian pakai (dan legal dibawa) lebih baik bawa dari rumah. Throat spray-nya aku beli di apotek di dalam Bin Dawood. Pengalamanku, apoteker di sana suka merekomendasikan produk yang lumayan mahal. Jadi jangan ragu tanya: "Ada yang lebih murah?"
Kalau perlu beli obat di Saudi
Cari apotek (pharmacy / صيدلية). Yang aku temukan:
- Aku ke apotek di Nahdi dan Bin Dawood. Nahdi itu jaringan apotek terbesar di Saudi, cabangnya banyak di Mekah dan Madinah (Saudipedia). Di Madinah ada yang dekat Masjid Nabawi (area Bani Khidrah), dan di Mekah ada di area Jabal Omar dekat Masjidil Haram. Cek Google Maps, cari "Nahdi pharmacy" dekat hotelmu.
- Jaringan lain: Al-Dawaa dan United Pharmacies [cek lokasi cabang dan jam buka].
- Nggak semua obat dijual bebas tanpa resep, apalagi obat hormonal. Aturan persisnya di Saudi belum jelas, jadi jangan ngandelin beli obat hormonal di sana. Bawa resep dari dokter di Indonesia.
Tips: simpan nama obat dalam nama generik (bukan cuma merek), biar apoteker di sana gampang cariin padanannya. Dan pakai Google Translate untuk nunjukin gejala.
4. Untuk perempuan: urusan haid
Ini bagian yang menurutku paling nggak boleh dilewatin. Banyak yang baru mikirin pas udah di Saudi.
4.1 Cek jadwal haid dari jauh hari
Hitung perkiraan haid kalian terhadap tanggal umroh. Kalau jatuhnya berdekatan, kalian punya tiga opsi. Pilih salah satu dari awal, jangan tunggu sampai di sana.
| Opsi | Gimana | Catatan |
|---|---|---|
| A. Ubah tanggal trip | Geser keberangkatan supaya jatuhnya jauh dari jadwal haid | Paling aman buat badan, tapi nggak selalu bisa |
| B. Siapin waktu cadangan | Tetap berangkat, tapi atur itinerary supaya ada hari cadangan di Mekah buat nunggu suci | Ini yang kupikir paling realistis kalau nggak mau minum obat |
| C. Obat penunda haid | Konsultasi ke dokter kandungan, pakai sesuai arahan | Lihat 4.2 |
4.2 Obat penunda haid: cerita adikku
Adikku konsultasi ke dokter kandungan (Rp150 ribu, belum termasuk obat). Obatnya dipakai 2 minggu (± Rp200 ribu per 30 tablet, mereknya Primolut), dan dia mulai minum 3 hari sebelum berangkat. Hasilnya, alhamdulillah dia nggak haid selama di sana. Tapi mood-nya jadi berantakan dan perutnya sakit, sampai butuh istirahat sehari. Dua hari setelah berhenti minum obat, haidnya langsung datang.
Aku sengaja nggak nulis dosis. Ini obat hormonal, jadi kapan mulai, berapa lama, dan caranya harus dari dokter, jangan asal ikut orang. Efeknya juga beda-beda tiap orang. Kementerian Kesehatan Saudi sendiri menyebut efek sampingnya bisa mual, sakit kepala, payudara bengkak, mood berubah, dan siklus jadi nggak teratur (panduannya), jadi yang dialami adikku masuk akal.
Konsultasi ke mana? Dokter kandungan langsung, ini yang paling aku saranin. Kalau mau online ada Halodoc (mulai ± Rp59 ribu). Idealnya sekitar 1 bulan sebelum berangkat, supaya dokter sempat nyaranin kapan mulai dan kamu bisa coba dulu. Soal hukum minum obatnya dari sisi agama, ulama punya beberapa pandangan, jadi tanya ustaz yang kamu percaya.
4.3 Bisa umroh nggak kalau lagi haid?
Bisa. Haid nggak membatalkan umroh, yang harus nunggu itu tawafnya.
- Niat ihram di miqat tetap boleh saat haid.
- Tawaf nunggu sampai suci, karena menurut mayoritas ulama suci itu syarat sah tawaf. Sa'i dan tahallul menyusul setelahnya.
- Urutannya penting: tawaf dulu, baru sa'i, baru potong rambut. Jangan tahallul sebelum tawaf dan sa'i selesai.
- Ulama beda pendapat soal ini (misalnya Abu Hanifah menganggap suci bukan syarat sah tawaf, dengan konsekuensi dam), jadi tanya ustaz atau mutawif yang kamu percaya.
Untuk hal lain selain tawaf, seperti masuk masjid, baca Al-Quran, dan sholat, jawabannya tergantung mazhab dan penjelasan ustaz.
Sumber: IslamQA, IslamQA soal urutan, Muslimah.or.id, NU Online soal syarat suci saat tawaf, dan NU Online, fikih haji untuk perempuan.
4.4 "Tiba-tiba haid di Saudi, ngapain?"
Dari sumber di atas dan pengalaman kita, urutan yang menurutku masuk akal:
- Tenang dulu. Haid bukan berarti trip kalian gagal.
- Kabarin mutawif atau ustaz (kalau sewa). Tanya apa yang bisa dikerjakan sekarang, dan kapan tawaf-nya.
- Tunda tawaf dan sa'i, dan jangan tahallul sampai suci dan tawaf-nya selesai (lihat 4.3).
- Cek jadwal: tiket pulang, hotel, dan permit umroh di Nusuk. Kalau jadwal sempit, pikirin apa bisa diperpanjang. Di Nusuk nggak ada fitur ganti tanggal. Caranya batalkan permit lewat tombol Cancel di bagian bawah permit (paling lambat sekitar 4 jam sebelum slot), lalu terbitkan permit baru. Aturan bisa berubah, jadi cek lagi di aplikasi.
- Isi waktunya dengan yang tetap bisa: dzikir dan doa, ziarah yang di luar area masjid (sesuai penjelasan ustaz), istirahat.
- Siapin pembalut dari awal. Di Saudi gampang dicari di supermarket dan apotek, tapi bawa sendiri lebih tenang.
Kalau haidnya nggak berhenti, ada opsi suntik yang lebih kuat. Ini harus sesuai anjuran dokter, efeknya bisa pengaruh ke mood, dan hasilnya nggak ada yang pasti. Suntiknya sekitar Rp1,7 juta per suntik, belum termasuk konsultasi dokter.
Strategi yang menurutku bantu: karena aku prefer Mekah dulu, umroh bisa dikerjakan di awal. Kalau ternyata haid datang di tengah jalan, masih ada hari cadangan di Mekah (6 hari dalam itinerary kita).
4.5 Kalau perlu ke dokter atau rumah sakit
Mekah
| Tempat | Info |
|---|---|
| Ajyad Emergency Hospital | Rumah sakit darurat di dekat Masjidil Haram (area King Abdulaziz Gate/Clock Tower). Menurut Kementerian Kesehatan Saudi, melayani kasus darurat sepanjang tahun (MOH) |
| 4 pusat kesehatan darurat di sekitar Masjidil Haram | Halaman Barat (King Fahd Expansion, lantai 1, dekat Gate 85–88), Halaman Timur (basement Sa'i, dekat Gate of Peace), Halaman Selatan (dekat Ismail Gate), dan dekat Ajyad Bridge. Bisa merujuk ke Ajyad Hospital. (sumber) |
| Al Noor Specialist Hospital | RS umum 24 jam, ± 3,5 km dari Masjidil Haram (butuh transport) |
Madinah
| Tempat | Info |
|---|---|
| Pusat kesehatan di sekitar Masjid Nabawi | Bab Jibreel (dekat halaman timur, khusus kasus darurat), Al-Safiah, Bab Al-Salam, Bab Al-Majeedi (MOH) |
| Al-Ansar Hospital | Disebut sebagai pusat utama penanganan darurat untuk jamaah Nabawi |
Nomor darurat
ambulans 997 (Saudi Red Crescent), darurat umum 911.
Terakhir, saran dari aku: simpan alamat dan nomor hotel dalam bahasa Arab dan Inggris di HP, jadi kalau perlu minta tolong supir atau petugas, tinggal tunjukin.
Tambahan dari keluargaku
Waktu vaksin
Kalau sudah mepet (H-10): kebanyakan klinik dan rumah sakit, termasuk pendaftaran online lewat Sinarkes, hanya menerima pendaftaran dalam 14 hari sebelum tanggal keberangkatan, dan pilihan jadwalnya bisa terbatas. Kalau sudah mepet, kamu bisa langsung datang ke BKK (Balai Kekarantinaan Kesehatan, layanan vaksin pemerintah di pelabuhan atau bandara) atau ke Rumah Sakit Bhayangkara. Dari pengalamanku, harganya juga lebih murah. Telepon dulu sebelum datang, karena stok dan jadwal vaksin tiap tempat bisa beda.
Aturan Kemenkes Saudi: vaksin meningitis minimal 10 hari sebelum tiba. Agen kami bilang minimal dua minggu sebelum berangkat supaya vaksinnya bekerja maksimal. Aku sendiri saranin sebulan sebelumnya, jangan mepet, supaya ada waktu kalau efeknya bikin demam atau kurang enak badan. Vaksin dilakukan di rumah sakit yang bekerja sama dengan Kemenkes dan menyediakan vaksin internasional. Di tiap kota besar harusnya ada.
Obat yang aku bawa, dan kenapa
- Paracetamol.
- Antimo, buat perjalanan panjang dari Jakarta ke Jeddah atau Madinah.
- Obat flu dan batuk, plus obat radang dan tenggorokan. Cuacanya panas banget, jadi gampang batuk dan radang.
- Obat maag, karena jam makan di sana nggak teratur.
- Obat alergi, kalau kalian alergi dingin atau panas.
- Minyak kayu putih, Counterpain, atau koyo, buat pegal-pegal dan capek.
- Obat khusus sesuai penyakit masing-masing.
Harga obat di Saudi lebih mahal dari Indonesia, bisa sampai tiga kali lipat. Kalau mau beli di sana, ke apotek.
Asuransi di visa umroh
Setahuku, visa umroh sudah termasuk asuransi kesehatan. Kalau sakit, ada klinik atau pusat kesehatan di sekitar Masjid Nabawi dan Masjidil Haram (lihat daftar di atas). Cakupannya lebih ke darurat medis, jadi jangan asumsikan pembatalan trip dan bagasi ikut ditanggung. Kalian bisa cek polisnya lewat layanan inquiry CCHI pakai nomor paspor atau visa. Sumber: Wego, asuransi umroh, Gulf News.
Detail vaksin: meningitis, polio, dan e-ICV
Saudi mewajibkan vaksin meningitis, dan sejak 2025 ditambah polio. Buat anak, aturan ini berlaku mulai usia di atas 2 tahun. Buktinya dulu buku kuning (ICV), sekarang berupa e-ICV digital yang biasanya dicek waktu check-in di bandara.
Kisaran biaya, tergantung faskes:
- Meningitis: mulai ± Rp350 ribu (jenis polisakarida) sampai ± Rp850 ribu (jenis konjugat)
- Polio: ± Rp250 sampai Rp600 ribu
Cari faskes yang berizin lewat situs Kemenkes (Sinkarkes), lalu bandingkan lokasi, layanan, dan harganya. Pastikan e-ICV kamu ikut diterbitkan, dan simpan di HP.
Tips supaya nggak gampang sakit
Kita bisa sakit di sana. Cuacanya panas ekstrem, dan badan capek karena banyak jalan. Ini yang menurutku penting:
- Minum air putih yang cukup. Banyak orang sengaja ngurangin minum supaya nggak ribet wudhu, padahal malah bikin dehidrasi.
- Hati-hati sama makanan. Es krim yang super dingin bikin tenggorokan gatal, dan gorengan kayak Al Baik juga bisa bikin tenggorokan gatal.
- Perbanyak serat. Di Arab banyak makanan yang nggak ada sayurnya, jadi pastiin kebutuhan seratmu cukup. Beli yogurt dan tambah sayuran supaya pencernaan lancar dan nggak mudah tumbang.
- Minum vitamin setiap hari.
Pertanyaan yang sering ditanya
Vaksin apa yang wajib dan kapan?
Vaksin meningitis (ACYW atau ACYWX), minimal 10 hari sebelum tiba menurut aturan Saudi. Aku saranin sebulan sebelumnya supaya nggak mepet.
Bisa umroh kalau lagi haid?
Haid nggak membatalkan umroh. Tawafnya nunggu sampai suci dulu, lalu sa'i dan tahallul menyusul setelah tawaf. Detail dan sumbernya ada di halaman ini, dan untuk hukumnya tanya ustaz ya.